Selasa, 22 Juli 2008

Kuliah Sambil Bekerja

Harus Bisa Jaga Keseimbangan

Andoyo - Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang

INILAH kenyataan, bahwa mahasiswa yang di sela-sela kuliahnya nyambi kerja mayoritas adalah mahasiswa dari kalangan ekonomi yang pas pasan. Walau tak menutup kemungkinan, bahwa ternyata ada juga beberapa teman mahasiswa dengan ekonomi yang mendukung juga ikut bekerja paruh waktu (part time). Bisa jadi untuk pengalaman, hasilnya ditabung, atau sekedar menambah uang saku.

Pekerjaan sebagai tukang ketik, tentor privat, makelar jual beli komputer, drafter sekaligus estimator freelance, penulis lepas dan sebagai penulis buku komputer freelance di sebuah lembaga, pernah penulis jalani dalam rangka mencukupi biaya kuliah yang semakin tinggi.

Jika ada kemauan dan jeli, sebenarnya ada banyak peluang untuk mencari sumber income tambahan. Berbagai aspek di dalam kehidupan kampus dapat kita manfaatkan untuk belajar, bekerja dan menjadi sarana untuk membiaya kebutuhan sendiri.

Teman-teman, kenalan, dosen dan berbagai pihak dapat menjadi peluang rekan kerja yang dapat menjadi sumber uang, walaupun uang bukanlah segala-galanya. Tapi dengan itu lah kuliah bisa terbayar.

Dari beberapa pekerjaan tersebut ada banyak pengalaman yang penulis dapatkan yang ternyata sungguh sangat bermanfaat, bukan hanya dari sisi finansial, tapi juga pengembangan diri.

Pekerjaan tersebut memang akan terasa berat manakala kita (mahasiswa yang bekerja part time) tidak dapat membagi waktu, antara waktu kuliah, belajar, ibadah, istirahat, bekerja dan sebagainya.

Di saat mahasiswa lain asyik nonkrong di depan televisi, malas-malasan sambil belajar atau apel ke rumah pacar, bisa jadi kita masih sibuk berkutat dengan pekerjaan paruh waktu kita yang menunggu untuk segera kita uangkan.

Ada banyak risiko jika kita tidak bisa membagi waktu. Bisa jadi mengantuk atau bahkan ketiduran di saat kuliah karena aktivitas lembur. Atau dimarahi dosen karena tugas kuliah tidak kelar-kelar karena kesibukan mencari biaya kuliah.

Jika ingin bekerja paruh waktu, intinya adalah pada kemauan, kesiapan diri dan manajemen waktu yang harus benar-benar tertata. Jika tidak maka pekerjaan kita dapatkan tapi kuliah jadi berantakan, ataupun sebaliknya. Jadi pokoknya keseimbangan antara kuliah dengan bekerja tetap harus terjaga.

Ada banyak hikmah yang penulis dapat dari pekerjaan-pekerjaan tersebut, bukan hanya dari sisi finansial, tapi juga teman-teman baru, relasi baru, keluarga baru serta kesadaran dan keyakinan bahwa Sang Pencipta menciptakan manusia dengan rezekinya masing-masing.

Dengan bekerja paruh waktu, kemerdekaan dan kebebasan dalam mengatur keuangan juga lebih baik, kesiapan untuk terjun ke dunia kerja terasa lebih mantap serta keinginan untuk menghargai uang dan jerih payah orang tua akhirnya tumbuh. Karena dengan bekerja itulah kita tahu betapa berat dan susahnya latihan untuk mendapatkan beberapa rupiah yang halal.

Ketidakmampuan ekonomi orang tua sebagai berkah dari Sang Pencipta tak harus disesali, membuat kita berhenti kuliah dan sebagainya.

Tapi harus dicari solusi bagaimana mengatasinya. Dengan niat, kemauan, rencana, aksi, usaha dan doa itu lah kita mampu mengubah segalanya. Usaha dan doa pasti akan mendatangkan hasil, walaupun terkadang tidak sesuai yang kita harapkan.

Tapi dengan kesyukuran, kita dapat menerima hasil usaha dan doa tersebut dengan lapang dada serta belajar mengapa usaha kita tak menghasilkan apa-apa.(12)

(Suara Merdeka, Jawa Tengah Kamis, 12 Januari 2006)

Ikon ini merupakan link ke situs bookmark sosial dimana pembaca dapat berbagi dan menemukan halaman web baru.
  • Digg
  • Sphinn
  • Delicious
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Related Articles



    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Adsense Camp

    Link network:

    Your Ad Here

    BlogCatalog

    My Blog List

    Sponsored by

    Links