Sabtu, 28 Maret 2009

Wellington, Kota Berangin yang Indah Minim Debu

Alhamdulillah, akhirnya kami sudah dua bulan berada di Wellington, New Zealand. Kota yang sepi, dimana harga mobil hanya Rp.4 jutaan tapi harga motor sampai puluhan juta. Jadi di sini harga mobil lebih murah ketimbang harga motor.

Kota Wellington lagi windy (berangin) soalnya lagi autum (musim peralihan summer ke winter). Suhunya berkisar 12 derajat celcius, sejuk tapi panasnya juga terik. Kotanya tenang banget, hampir nggak ada traffic light di sini, semuanya benar-benar berdasarkan kesadaran pengemudi mobilnya. Jadi saat ada persimpangan, masing-masing pengemudi seakan sudah tahu harus memberikan kesempatan mobil yang lain untuk lewat.

Dua bulan lalu, tepatnya tanggal 31 Januari 2009 kami berangkat dari Jakarta jam 20.45 WIB. Bersama istriku tercinta kami dari Bojonggede diantar oleh ayah mertua, saudari kembar istriku dan adikknya. Sampai di sini jam 02.30 pm 1 Februari 2009.

Masuk imigrasi bayar fiskal Rp.2,5 juta. Sebenarnya bisa sih gratis dengan menunjukkan NPWP yang sudah dibuatkan oleh perusahaan tempatku bekerja dulu. Tapi dampaknya kalau aku kerja, gajiku di New Zealand bakalan kena potong pajak dengan standar pajak Indonesia. Akhirnya kami putuskan tidak pakai NPWP untuk bayar fiskal.

Sampai di depan ruang tunggu Qantas Airways kami masih bawa dua botol Aqua. Padahal membawa cairan lebih dari 200 mililiter dilarang masuk, jadi dua botol itu kami habiskan berdua dengan istri. Perut jadi kembung karena air.

Ini pertama kalinya kami naik Airbus. Pesawat lumayan gedhe dengan fasilitas yang cukup komplit. Nyaman.

Dari Jakarta sampai Sydney membutuhkan waktu 7 jam 40 menit. Jam 07.10 waktu Sydney kami tiba di Sydney, bandara yang menurutku masih bagusan Bandara Hassanudin Makassar. Pemeriksaan imigrasi dan barang bawaan ekstra ketat. Tas dibongkar, gunting dibuang dan laptop harus dikeluarkan dari tas untuk pemeriksaan. Nyebelin.

Jam 09.40 Sydney kami terbang menuju Wellington dengan lama penerbangan 2 jam 50 menitan. Jadi lumayan sih ga terlalu lama, soalnya sudah capek.

Kami tiba di Wellington, New Zealand jam 14.00 waktu setempat dan harus menjalani pemeriksaan bagasi lagi. Bagasi yang berisi makanan harus dibongkar, di Pilihannya ada tiga. Declare your bringing, or dispose your bringing into trash box.. dan yang terakhir kalau nggak ngaku Kena Denda NZ$ 200, kalau dirupiahin kira-kira ya Rp.1,5 jutaan.

Untungnya ada orang Indonesia yang jadi Officer untuk pemeriksaan bagasi kami. Terimakasih untuknya, soalnya kalau nggak dibantu makanan favoritku dan istriku bisa dibuang semua oleh Supervisornya. Oh iya, kalau bawa visa student tunjukkin aja, itu bisa mengurangi hukuman kok.

Saat postingan ini aku upload kami masih menginap di penampungan, kos-kosan mahasiswa yang dulu kuliah di Wellington juga. Besok mudah-mudahan sudah bisa tinggal di flat baru kami bersama empat teman lainnya.

Terus tadi temen dari Makassar yang sudah enam bulan di sini ngajak kami jalan-jalan sebentar. Ternyata di sini ada kebiasaan barang bekas pakai tapi masih layak pakai yang nggak dipakai lagi ama pemiliknya dibuang di tempat penampungan agar bisa dipakai orang lain yang membutuhkan. Bisa dicontoh nih kayaknya ma orang Indonesia.

Dari tempat itu kami mengambil 2 buah cangkir, 2 buah piring, 4 buku fiksi berbahasa Inggris dan itu gratis. Hehe..., kami jadi pemulung soalnya bekal kami memang terbatas.

Student Visa kami sampai kuliah kami selesai. Biaya kuliah sudah beres, tapi untuk biaya hidup ya harus cari sendiri dengan bekerja part time bersama istriku. Habis kuliah kami harus kerja.

Bagasi dan Pemeriksaannya di New Zealand

Declare your bringing, dispose or fine (denda)

Hai kawan-kawan yang mau berangkat ke Wellington, New Zealand ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian. Terutama mengenai bawaan yang ada dalam bagasi dan yang akan dibawa naik ke dalam pesawat (tentengan). Pemeriksaan cukup ketat biasanya diberlakukan di bandara Syney dan Wellington (hampir semua wilayah New Zealand pemeriksaan bagasi sangat ketat). Nah, berikut ini beberapa saran yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan ada gunanya yah.

Masalah berat bagasi:

Secara umum, berat maksimum untuk bagasi adalah 20 kilogram dan tentengan 7 kilogram, meskipun kadang bisa ditolelir oleh pihak airlines jika tidak lebih dari 32 kilogram. Patokan 32 kilogram ini didasarkan pada kemampuan manusia mengangkat berat paling optimal ya sekitar 32 kiloan. Menurut saya sih nggak benar juga, soalnya orang Indonesia kan kecil-kecil dan kekuatan mengangkat bebannya kebanyakan kurang dari itu. Itu kan standar orang barat yang badannya segedhe-gedhe kulkas.

Jika lebih dari itu maka akan kena denda US$ 45, kalau dirupiahin mahal banget boo.. Jadi ada beberapa saran yang sudah sering dilakukan dan biasanya berhasil. Jika kita yakin bawaan kita melebihi kuota yang kita miliki, maka:
  1. Datanglah untuk check in lebih pagi/awal sehingga pemeriksaan berat bagasi tidak dilakukan secara ketat.
  2. Jika kita memakai visa student maka biasanya kelebihan bagasi di atas 20 kilogram tapi kurang dari 32 kilogram masih bisa diampuni oleh petugas check in bandara, maklum saja, student kan biasanya ngirit dan segala apa yang ada dari rumah diangkut semua. Ada mie, saos, kecap, magic jar, setrikaan dll. Weleh-weleh..., kayyak orang mau eksodus saja. Jadi petugas check in pun agak maklum. Kalau nggak maklum juga pasanglah wajah memelas dan berargumen yang masuk akal bahwa kita student dan benar-benar butuh itu.
  3. Kalau temen2 yang berangkat banyak orang maka bisa saling membantu atau bagi-bagi beban sehingga berat bagasi bisa sesuai standar.
  4. Kalau masih nggak ada jalan lain, bayarlah denda. Hehe....
Barang yang boleh dan tidak boleh di bawa, Declare, dispose or fine (denda):

Ini yang sering jadi pertanyaan pada temen2 cewek. Maklum saja mereka kan butuh banyak make up untuk dibawa. Minyak wangi, deodoran, hand body lotion, balsam, obat gosok, minyak kayu putih dll. Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian teman-teman, ini langkah-langkahnya:

  1. Cairan, obat-obatan dan makanan sebaiknya dimasukkan ke dalam bagasi pesawat. Begitu juga dengan alat-alat tajam seperti: gunting, pemotong kuku, pinset dan yang kira-kira tajam lainnya sebaiknya masukkan ke dalam bagasi. Soalnya saya kemarin bawa pemotong kuku kecil saja kedetect sama X-Ray di bandara Sydney, Australia. Pemotong kuku di minta petugas bandara dan tidak dikembalikan. Padahal transitnya cuma satu jam setengah.
  2. Kalau ada cairan yang ingin dibawa dalam tentengan masuk ke dalam pesawat, maka sebaiknya kurang dari 200 mililiter. Lha wong saya bawa air dua botol mau masuk ruang tunggu di bandara Sukarno Hatta saja nggak boleh, akhirnya saya dan istri kembung gara-gara minum air dua botol sekaligus. Ada juga teman yang membawa handbody lotion dalam tentengan, tapi akhirnya dispose (dibuang ke dalam keranjang sampah, sayang kan beli mahal-mahal).
  3. Jangan membawa sampel tanah dari negara asli, terutama yang menempel pada sepatu dan alat-alat olahraga. Kalau mau dibawa, cucilah dulu yang bersih dan tidak ada tanah yang masih menempel, atau petugas bandara Australia dan New Zealand akan membuang sepatu Anda.
  4. Declare semua barang yang Anda bawa jika menurut anda meragukan. Saat kita masuk pesawat dan pesawat akan transit di satu negara maka pramugari/ra akan memberikan check list isi bagasi kita. Barang2 yang menurut kita meragukan dan masuk dalam list pada checklist sebaiknya kita declare (beritahukan), atau kena denda cash NZ$ 200, ya kira-kira Rp. 1.200.000,00.
  5. Barang yang dianggap meragukan oleh New Zealand dan Australia antara lain: obat-obatan (harus membawa resep dokter kalau memang bawa obat, kecuali obat-obatan ringan), di larang membawa makanan basah (daging, sayur mentah, daging matang, sosis dsb).
  6. Kalau bawa makanan dari Indonesia, pilih yang kering saja dan ada kandungan isi makanannya (ingredient) apa saja. Kalau itu makanan kering buatan sendiri sebaiknya bungkus yang rapi dan ketik ingredients-nya apa saja, tempelkan pada makanan tersebut. Contohnya ada temen yang membawa Jahe bubuk maka cantumkan saja 100% jahe kalau memang nggak ada bahan lainnya. Dalam bahasa Inggris loh yah.
  7. Saat kita naik pesawat dari Sydney menuju Wellington, kita pasti diberi check list isi bagasi kita apa aja. Nah kalau ragu dengan bawaan kita berdasarkan check list yang diberikan, maka declare saja (artinya kita ragu/menyadari bahwa kita membawa barang yang menurut pemerintah setempat berbahaya, daripada dibuang atau didenda). Soalnya saat kita mau keluar dari bandara Wellington, seluruh isi bawaan (bagasi, tas dan tentengan) pasti dibongkar sama mereka dan ditanyain satu persatu. Capek kan.
Yah, itu dulu yah. Kalau ada yang perlu ditanyakan kontak saja yah melalui comment di bawah ini.

Keunikan Kota Wellington, New Zealand

Ada beberapa hal yang membuat saya terkesan saat berada di Wellington, New Zealand. Kota ini seakan-akan berjalan sangat lambat. Beda sekali dengan ketika saya berada di Depok atau Jakarta. Kota di Indonesia yang super sibuk dan super macet. Waktu dalam sehari sepertinya berjalan sangat cepat.

Ada perbedaan definisi macet versi Indonesia dan versi New Zealand. Dasar orang Indonesia, hal yang sebenarnya di sini menurut pandangan orang Indonesia belum macet, tapi orang sini sudah bilang macet parah. Hehe..., saya juga jadi serba bingung.

Banyak hal-hal paradox juga yang saya temukan di sini. Tapi saya belum bisa cerita sekarang, mungkin lain kali aja. Karena masih dalam proses analisa.

Ketepatan waktu sangat dihormati di sini, karena kita memang sangat mudah mencapainya di sini. Kota yang hampir tanpa ada kemacetan. Orang Indonesia yang ada di sini pun akhirnya ikut terbawa irama itu.

Jalan-jalan didesain sangat mudah untuk dilalui oleh orang-orang cacat, apalagi orang-orang normal dan sehat. Jika Anda keranjingan skate board dan bersepada, di New Zealand mendukung untuk itu.

Trotoar untuk akses pedestrian (pejalan kaki dan orang cacat) di desain sangat mudah untuk dilalui. Beda sekali dengan di Indonesia yang trotoarnya memiliki level lebih tinggi kadang sampai 20 cm, jangankan untuk orang cacat dan kendaraannya, untuk jalan orang normal saja bisa kesandung-sandung alias nggak nyaman.

Jika hari Sabtu malam minggu, kebanyakan orang di sini mengadakan party, atau minum-minuman keras. Inilah yang alhamdulillah tidak atau jarang kita temukan di Indonesia. Udara yang dingin di sini mungkin mendukung untuk melakukan itu. Hari Minggu pagi, cobalah keliling kota. Maka Anda menemukan banyak botol atau pecahan botol berserakan di mana-mana. Kadang bekas muntahan orang mabuk juga mudah kita temukan.

Orang di sini suka jalan kaki, jarang saya temukan orang sini yang mengalami obesitas. Kaki wanita dan gadis di sini indah-indah karena terbentuk saat berjalan kaki. Cowok-cowoknya juga banyak yang ganteng dan berbadan cukup atletis, ini karena di sini mereka suka olah raga.

Anda tidak akan sulit menemukan orang seperti Brad Pitt atau Tom Cruise di sini. Sangat mudah. Jika Anda penggemar Angelina Jolie atau Scarlet Johanson, di sini juga banyak yang lebih cantik dari itu. Orang berbadan seperti Pamela Anderson juga sangat banyak di sini.

Budaya pacaran di sini juga sangat berbeda dengan di negara kita. Di sini cowok dan cewek meskipun sudah pacaran, makan malam bersama ya bayar sendiri-sendiri. Asas kemandirian masing-masing kayaknya ada di benak mereka. Jadi, kalo Anda mau pacaran di sini jangan khawatir akan bangkrut cepat. Hehe....

Kota Wellington adalah kota kecil, dengan penduduk kurang lebih 350.000 jiwa, kalah besar dengan kota Solo yang mencapai lebih dari 500.000 jiwa di tahun 2003. Sedang Auckland hanya mencapai 1,3 juta jiwa, sekali lagi kalah besar dengan penduduk kota Semarang yang berpenduduk lebih dari 1,4 juta jiwa di tahun 2005.

Saya pribadi sebenarnya berharap, ibukota negara dipindahkan ke kota yang lebih kecil. Jakarta sudah tidak efektif lagi menjadi pusat pemerintahan. Kesibukan, kemacetan, bising dan ketidaknyamanan tentu bukan alasan utama. Tapi lebih kepada pemerataan kesejahteraan. Mau tak mau saat kota kecil berubah menjadi ibu kota negara, tentu akan membangkitkan geliat ekonomi baru.

Yah,,,begitulah. Masih ada banyak hal yang harus saya pelajari disini dan kemudian mudah-mudaha bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Saya merindukan Indonesia, keluarga, makanannnya, panasnya dan cabenya.
 

Adsense Camp

Link network:

Your Ad Here

BlogCatalog

My Blog List

Sponsored by

Links